Kesaksianku ini adalah lanjutan dari kesaksianku 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih dalam pertengahan masa kuliahku, sekitar semester 4. Sekarang aku sudah menyelesaikan kuliah S1-ku di Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret Surakarta, atau yang lebih dikenal dengan sebutan UNS Solo. Aku ingin bersaksi tentang anugerahNya yang tak terkira selama aku kuliah.
Seperti yang pernah aku tuliskan dalam kesaksianku 2 tahun yang lalu, aku diterima di Universitas ini lewat tes SNMPTN (sekarang SBMPTN) pada tahun 2010. Saat itu aku coba-coba mendaftarkan diri untuk Beasiswa Bidik Misi dari Pemerintah RI. Dan Puji Tuhan, aku lolos. Sehingga aku dapat kuliah tanpa harus membayar biaya kuliah sama sekali.
Selama kuliah, beasiswa itu sangat menolongku. Aku mendapatkan uang saku bulanan dari beasiswa itu. Walaupun uangnya sering turun terlambat dan tidak tentu, aku tetap bersyukur. Meski mendapat beasiswa, orangtuaku tetap memberiku uang saku untuk kehidupan sehari-hari di Solo, sehingga uang dari beasiswa dapat kumanfaatkan ke hal-hal yang lain. Dari uang beasiswa yang kuterima selama ini, aku bisa membayar uang kos selama 4 tahun kuliah, membeli/fotocopy buku kuliah dan materi kulah yang kuperlukan selam kuliah, aku juga bisa membeli laptop dan membayar hal-hal lainnya. Setelah aku lulus pun, uangnya masih tersisa di tabunganku. Sungguh berkat Tuhan yang tak terkira buatku.
Selain itu, aku juga merasakan berkat Tuhan yang luar biasa di keseharianku selama aku kuliah. Sejak semester 1 hingga aku lulus menjadi sarjana, tidak ada satupun nilai mata kuliah ku yang mendapat nilai C, D, atau E. Semua nilai mata kuliah yang ku ambil adalah A dan B. Semua teman-temanku heran dan memujiku. Tapi aku tahu, ini semua penyertaan Tuhan dalam hidupku. Jika hanya usahaku saja, aku rasa itu hal yang sulit terjadi. Tanpa kasih karunia dan anugerahNya, aku tidak mungkin bisa memperoleh semua nilai yang memuaskan itu.
Karena nilai-nilaiku yang selalu bagus di setiap ujianku itu, beberapa temanku menganggapku pintar dan meminta untuk belajar bersamaku saat akan ujian. Aku senang sekali, karena aku diberi kesempatan untuk berbagi berkat dengan mereka. Dengan sukacita aku membantu mereka belajar, kaarena aku juga dapat sekaligus belajar bersama mereka. Walaupun aku tidak meminta bayaran apapun dari mereka, tapi mereka mentraktirku makan sebagai ucapan terimakasih mereka. Aku sungguh senang dan baahagia bisa membantu mereka. Karena dengan itu, aku merasa bisa membagikan berkat Tuhan yang telah kuterima.
Aku juga mewakili jurusan serta Universitasku di beberapa lomba Matematika Nasional. Aku ditunjuk oleh beberapaa dosen dan juga mendapatkan tambahan jam belajar untuk persiapan mengikuti lomba-lomba tersebut. Walaupun beberapa kali aku mengikuti lomba-lomba itu, aku tidak pernah sekalipun menang dan mendapat juara. Namun aku tetap bersyukur diberi karena telah diberi kesempatan dan kepercayaan menjadi wakil dalam lomba-lomba tersebut.
Setelah kuliah selama 6 semester, aku menetapkan diri untuk mengambil mata kuliah Tugas Akhir. Pengerjaan skripsiku tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Dalam pertengahan semester 7, aku di suruh mewakili jurusanku untuk lomba Matematika di Jogja. Aku sudah menolak karena aku mau konsen ke skripsiku, tapi akhirnya aku menuruti permintaan dari jurusanku itu. Aku pergi ke Jogja dengan 2 teman sejurusanku, Yeva dan Fithri, serta beberapa teman lainnya dari jurusan lain. Walaupun aku tidak mendapatkan juara dari lomba itu, aku tetap bersyukur karena temanku dari Jurusan Fisika, Ade, mendapatkan juara dalam lomba itu. Peringkat nilaiku di lomba itu juga tidak terlalu mengecewakan. Karena aku masih termasuk dalam 10 besar.
Aku juga mewakili jurusan serta Universitasku di beberapa lomba Matematika Nasional. Aku ditunjuk oleh beberapaa dosen dan juga mendapatkan tambahan jam belajar untuk persiapan mengikuti lomba-lomba tersebut. Walaupun beberapa kali aku mengikuti lomba-lomba itu, aku tidak pernah sekalipun menang dan mendapat juara. Namun aku tetap bersyukur diberi karena telah diberi kesempatan dan kepercayaan menjadi wakil dalam lomba-lomba tersebut.
![]() |
| Berfoto dengan Yeva saat lomba ONMIPA di Semarang |
Setelah kuliah selama 6 semester, aku menetapkan diri untuk mengambil mata kuliah Tugas Akhir. Pengerjaan skripsiku tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Dalam pertengahan semester 7, aku di suruh mewakili jurusanku untuk lomba Matematika di Jogja. Aku sudah menolak karena aku mau konsen ke skripsiku, tapi akhirnya aku menuruti permintaan dari jurusanku itu. Aku pergi ke Jogja dengan 2 teman sejurusanku, Yeva dan Fithri, serta beberapa teman lainnya dari jurusan lain. Walaupun aku tidak mendapatkan juara dari lomba itu, aku tetap bersyukur karena temanku dari Jurusan Fisika, Ade, mendapatkan juara dalam lomba itu. Peringkat nilaiku di lomba itu juga tidak terlalu mengecewakan. Karena aku masih termasuk dalam 10 besar.
Hambatan lainnya adalah kondisi kesehatan Dosen Pembimbing 1 ku, Bu Mania. Beliau diketahui menderita kangker payudara tepat di tengah-tengah masa pengerjaan skripsiku. Karena itu, beliau jarang berada di kampus, karena harus check-up di rumah sakit. Namun berkat Tuhan yang lain terjadi saat aku akan seminar hasil skripsi. Beliau menyarankanku untuk seminar sebelum beliau menjalani operasi. Yaitu sebelum hari Natal 2013 kemarin. Seminar hasiku itu menjadi kenangan terindah di masa kuliahku. Karena seminar hasilku ku adakan tepat sebelum Natal, seperti keinginanku di awal aku mengambil mata kuliah tugas akhir saat itu. Tetapi karena kondisi kesehatan Bu Mania, aku tidak bisa langsung melaksanakan ujian skripsi setelah Tahun Baru 2014. Akhirnya selama masa-masa itu aku hanya bisa menunggu sampai Bu Mania kembali masuk ke kampus. Puji Tuhan, penantian itu tidak berlangsung lama. Akhir bulan Januari 2014 aku dapat melaksanakan ujian skripsiku.
Setelah melaksanakan ujian skripsi, aku langsung merevisi skripsiku dalam waktu sehari dan langsung menemui dosen-dosen pengujiku. Puji Tuhan revisi akhirku berlaangsung cepat. Sehingga 2 minggu setelah ujian skripsi, aku bisa mendaftar wisuda untuk bulan Maret 2014.
Pada tanggal 8 Maret 2014, aku di wisuda oleh Rektor UNS di gedung Auditorium UNS. Saat itu adalah saat paling membahagiakan sekaligus menegangkan bagiku. Karena aku lulus dengan predikat Cumlaude, aku di wisuda di urutan awal. Jadi aku duduk di baarisan terdepan di antara semua wisudawan-wisudawati hari itu. Karena hari itu adalah wisuda pertama bagi mahasiswa Bidik Misi, ada perwakilan dari Beasiswa Bidik Misi yang hadir dan memberikan kata-kata ucapan untuk seluruh mahasiswa Bidik Misi, terutama yang lulus dengan predikat Cumlaude. Hari itu, ada 2 mahasiswa Bidik Misi yang lulus dengan predikat Cumlaude. Salah satunya adalah aku. Seusai prosesi wisuda yang ku jalani, aku diperkenalkan kepada pak Rektor dan bapak perwakilan dari Bidik Misi oleh Dekan Fakultasku. Lalu aku diajak keluar auditorium bersama mereka dan dibawa ke ruang Pembantu Rektor 3. Disana aku diberi amplop berisi uang, tanda penghargaan dari Bidik Misi atas prestasi yang ku peroleh. Puji Tuhan.
Setelah wisuda, aku tidak berencana untuk langsung bekerja. Aku memiliki keinginan untuk kuliah lagi. Beberapaa dosenku, termasuk Dekan Fakultasku, mendukung keinginanku dan menyarankan aku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Bulan Juni 2014 kemarin, ada Seminar dan Workshop Graph Master yang diadakan di UNISMA Malang. Disana hadir beberapa Profesor dari berbagai negara. Aku disarankaan untuk mengikuti acara itu oleh dosenku, Pak Tri, yang termasuk salah satu Profesor yang mengisi workshop di acara itu. Disana aku dikenalkan pada seorang Profesor dari Newcastle University Australia bernama Prof. Mirka. Beliau sangat mendukungku untuk kuliah di Universitasnya. Bahkan saat aku meminta Letter of Acceptance (LoA) darinya, beliau langsung membuatkannya untukku. Dengan LoA dari beliau, aku mendaftarkan diri untuk beasiswa LPDP dari DepKeu RI. Sekitar seminggu setelah mendaftarkan beasiswa LPDP, aku mendapatkan email dari LPDP yang menyatakan nahwa aku lolos administrasi beasiswa tersebut. Selanjutnya aku mendapatkan jadwal wawancra dan Leaderless Group Discussion (LGD) di Yogyakarta. Untungnya aku memiliki saudara sepupu yang kuliah di UGM. Jadi aku meminta tolong padanya untuk menginap disana saat aku wawancara disana.
Jadwal wawancara dan LGD yang aku dapatkan adalah 10-11 Juli 2014. Tepat sehari setelah Pemilu Presiden yang diadakan pada tanggal 9 Juli 2014. Dalam email yang kuterima, aku diberitahukan untuk hadir di tempat wawancara hari pertama (10 Juli) jam 08.00 tepat. Mau tdak mau, tanggal 9 Juli malam aku harus sudah berada di Jogja. Padahal saat itu ada issue bahwa beberapa pendukung salah satu Capres akan mengadakan kerusuhan jika Capres yang mereka dukung kalah. Tetapi aku tetap berniat, apapun yang terjadi aku HARUS ke Jogja malam itu juga. Puji Tuhan tak ada hal yang terjadi, walaupun dalam benakku aku masih teringat kerusuhan tahun 1998 yang lalu.
Pada hari wawancara yang bertepatan dengan bulan puasa itu, aku sudah berniat ikut puasa. Karena aku mengira asti semua orang disana juga berpuasa. Puji Tuhan aku bertemu dengan beberapa teman yang berasal dari Flores Timur. Mereka Katholik. Jadi aku ada teman makan siang. Untungnya aku mendapat jadwal wawancara dan LGD satu hari itu saja. Walaupun jadwal LGD ku pagi dan wawancaraku sore. Hari itu teman-teman baruku bertanya padaku. "Kalau ga lolos beasiswanya kamu gimana?" Tapi aku optimis saja dan enjawab dengan santai. "Kalau kali ini ga lolos, ya sudah. Besok daftar lagi aja." Jawaban santai itu terlontar saat aku belum wawancara. Jadwal wawancaraku adalah jadwal terakhir hari itu. Saat masuk ruang wawancara dan mulai mendapat pertanyaan dari reviewer dan psikolog yang ada disana, aku merasa sedikit sebel pada salah satu reviewer. Dia terlihat seperti meremehkanku dan membuatku merasa terpojok. Sampai-sampai aku keluar ruangan dengan perasaan pesimis. Merasa kalau ada kemungkinan aku tidak lolos wawancara karena reviewer itu.
Namun beberapa hari yang lalu, tepatnya 23 Juli 2014, sekitar pukul 10 malam aku mendapat email lagi dari LPDP. Untungnya sekitar pukul setengah 11 malam, tepat sebelum aku hendak tidur, aku mengecek emailku dan membaca email itu. Akupun langsung mendownload lampiran surat keputusan beasiswa LPDP yang ada di email itu. Tetapi koneksi di HP ku terlalu jelek malam itu, sehingga membutukan waktu yang cukup lama untuk mendownload file lampirannya. Hal itu menyebabkan jantungku berdetak kencang sekali. Saat aku membuka file lampiran, aku langsung mencari namaku. Puji Tuhan, ternyata aku lolos seleksi wawancara beasiswa LPDP. Sungguh berkat Tuhan yang sangat besar sekali dalam hidupku. Aku sangat gembira, tetapi bingung mau menyampaikan kabar gembira itu pada siapa.
Sekarang aku sudah punya jaminan biaya pendidikan S2 kemanapun aku mau melanjutkan kuliahku. Yang kuperlukan tinggal sertifikat iBT TOEFL untuk mendaftarkan kuliah S2 ke luar negeri. Sungguh banyak sekali berkat Tuhan di sepanjang hidupku ini. Saat aku mengalaminya, aku sungguh mengucap syukur padaNya. Dan aku selalu ingin membagikan kebahagiaan serta berkat yang kudapatkan ini pada orang-orang sekitarku.
Entah berkat apa lagi yang Tuhan rencanakan bagiku, aku tidak tahu. Semuanya adalah misteri. Hanya Tuhan yang tahu, karena Dia telah merencanakan segala kehidupan kita. Bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Semoga kesaksian keduaku disini bisa menjadi berkat bagi kita semua. Aku tak tahu apakah aku akan menulis kesaksian lainnya lagi atau tidak. Tetapi satu hal yang aku tahu dengan pasti. Berkat Tuhan takkan pernah berhenti sepanjang kehidupan kita.
![]() |
| Foto kenangan bersama teman-temanku yang datang saat ujian skripsiku |
Setelah melaksanakan ujian skripsi, aku langsung merevisi skripsiku dalam waktu sehari dan langsung menemui dosen-dosen pengujiku. Puji Tuhan revisi akhirku berlaangsung cepat. Sehingga 2 minggu setelah ujian skripsi, aku bisa mendaftar wisuda untuk bulan Maret 2014.
Pada tanggal 8 Maret 2014, aku di wisuda oleh Rektor UNS di gedung Auditorium UNS. Saat itu adalah saat paling membahagiakan sekaligus menegangkan bagiku. Karena aku lulus dengan predikat Cumlaude, aku di wisuda di urutan awal. Jadi aku duduk di baarisan terdepan di antara semua wisudawan-wisudawati hari itu. Karena hari itu adalah wisuda pertama bagi mahasiswa Bidik Misi, ada perwakilan dari Beasiswa Bidik Misi yang hadir dan memberikan kata-kata ucapan untuk seluruh mahasiswa Bidik Misi, terutama yang lulus dengan predikat Cumlaude. Hari itu, ada 2 mahasiswa Bidik Misi yang lulus dengan predikat Cumlaude. Salah satunya adalah aku. Seusai prosesi wisuda yang ku jalani, aku diperkenalkan kepada pak Rektor dan bapak perwakilan dari Bidik Misi oleh Dekan Fakultasku. Lalu aku diajak keluar auditorium bersama mereka dan dibawa ke ruang Pembantu Rektor 3. Disana aku diberi amplop berisi uang, tanda penghargaan dari Bidik Misi atas prestasi yang ku peroleh. Puji Tuhan.
| Diwisuda oleh Rektor UNS |
Setelah wisuda, aku tidak berencana untuk langsung bekerja. Aku memiliki keinginan untuk kuliah lagi. Beberapaa dosenku, termasuk Dekan Fakultasku, mendukung keinginanku dan menyarankan aku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Bulan Juni 2014 kemarin, ada Seminar dan Workshop Graph Master yang diadakan di UNISMA Malang. Disana hadir beberapa Profesor dari berbagai negara. Aku disarankaan untuk mengikuti acara itu oleh dosenku, Pak Tri, yang termasuk salah satu Profesor yang mengisi workshop di acara itu. Disana aku dikenalkan pada seorang Profesor dari Newcastle University Australia bernama Prof. Mirka. Beliau sangat mendukungku untuk kuliah di Universitasnya. Bahkan saat aku meminta Letter of Acceptance (LoA) darinya, beliau langsung membuatkannya untukku. Dengan LoA dari beliau, aku mendaftarkan diri untuk beasiswa LPDP dari DepKeu RI. Sekitar seminggu setelah mendaftarkan beasiswa LPDP, aku mendapatkan email dari LPDP yang menyatakan nahwa aku lolos administrasi beasiswa tersebut. Selanjutnya aku mendapatkan jadwal wawancra dan Leaderless Group Discussion (LGD) di Yogyakarta. Untungnya aku memiliki saudara sepupu yang kuliah di UGM. Jadi aku meminta tolong padanya untuk menginap disana saat aku wawancara disana.
![]() |
| Berfoto bersama Yeva dan pembicara Workshop di UNISMA |
Jadwal wawancara dan LGD yang aku dapatkan adalah 10-11 Juli 2014. Tepat sehari setelah Pemilu Presiden yang diadakan pada tanggal 9 Juli 2014. Dalam email yang kuterima, aku diberitahukan untuk hadir di tempat wawancara hari pertama (10 Juli) jam 08.00 tepat. Mau tdak mau, tanggal 9 Juli malam aku harus sudah berada di Jogja. Padahal saat itu ada issue bahwa beberapa pendukung salah satu Capres akan mengadakan kerusuhan jika Capres yang mereka dukung kalah. Tetapi aku tetap berniat, apapun yang terjadi aku HARUS ke Jogja malam itu juga. Puji Tuhan tak ada hal yang terjadi, walaupun dalam benakku aku masih teringat kerusuhan tahun 1998 yang lalu.
Pada hari wawancara yang bertepatan dengan bulan puasa itu, aku sudah berniat ikut puasa. Karena aku mengira asti semua orang disana juga berpuasa. Puji Tuhan aku bertemu dengan beberapa teman yang berasal dari Flores Timur. Mereka Katholik. Jadi aku ada teman makan siang. Untungnya aku mendapat jadwal wawancara dan LGD satu hari itu saja. Walaupun jadwal LGD ku pagi dan wawancaraku sore. Hari itu teman-teman baruku bertanya padaku. "Kalau ga lolos beasiswanya kamu gimana?" Tapi aku optimis saja dan enjawab dengan santai. "Kalau kali ini ga lolos, ya sudah. Besok daftar lagi aja." Jawaban santai itu terlontar saat aku belum wawancara. Jadwal wawancaraku adalah jadwal terakhir hari itu. Saat masuk ruang wawancara dan mulai mendapat pertanyaan dari reviewer dan psikolog yang ada disana, aku merasa sedikit sebel pada salah satu reviewer. Dia terlihat seperti meremehkanku dan membuatku merasa terpojok. Sampai-sampai aku keluar ruangan dengan perasaan pesimis. Merasa kalau ada kemungkinan aku tidak lolos wawancara karena reviewer itu.
![]() |
| Berfoto bersama teman-teman baruku saat makan siang |
Namun beberapa hari yang lalu, tepatnya 23 Juli 2014, sekitar pukul 10 malam aku mendapat email lagi dari LPDP. Untungnya sekitar pukul setengah 11 malam, tepat sebelum aku hendak tidur, aku mengecek emailku dan membaca email itu. Akupun langsung mendownload lampiran surat keputusan beasiswa LPDP yang ada di email itu. Tetapi koneksi di HP ku terlalu jelek malam itu, sehingga membutukan waktu yang cukup lama untuk mendownload file lampirannya. Hal itu menyebabkan jantungku berdetak kencang sekali. Saat aku membuka file lampiran, aku langsung mencari namaku. Puji Tuhan, ternyata aku lolos seleksi wawancara beasiswa LPDP. Sungguh berkat Tuhan yang sangat besar sekali dalam hidupku. Aku sangat gembira, tetapi bingung mau menyampaikan kabar gembira itu pada siapa.
Sekarang aku sudah punya jaminan biaya pendidikan S2 kemanapun aku mau melanjutkan kuliahku. Yang kuperlukan tinggal sertifikat iBT TOEFL untuk mendaftarkan kuliah S2 ke luar negeri. Sungguh banyak sekali berkat Tuhan di sepanjang hidupku ini. Saat aku mengalaminya, aku sungguh mengucap syukur padaNya. Dan aku selalu ingin membagikan kebahagiaan serta berkat yang kudapatkan ini pada orang-orang sekitarku.
Entah berkat apa lagi yang Tuhan rencanakan bagiku, aku tidak tahu. Semuanya adalah misteri. Hanya Tuhan yang tahu, karena Dia telah merencanakan segala kehidupan kita. Bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Semoga kesaksian keduaku disini bisa menjadi berkat bagi kita semua. Aku tak tahu apakah aku akan menulis kesaksian lainnya lagi atau tidak. Tetapi satu hal yang aku tahu dengan pasti. Berkat Tuhan takkan pernah berhenti sepanjang kehidupan kita.
Tuhan Memberkati
Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak
kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,
(Galatia 1:15)



