Thursday, 6 September 2012
Friday, 27 January 2012
Jinggle Bells
Jinggle Bells
Siapa yang tak kenal lagu “Jinggle Bells” ? Sepertinya semua orang
Kristen tahu, bahkan orang non Kristen pun sering mendengar lagu ini di musim
Natal. Tetapi, tahukah anda bahwa sebenarnya “Jinggle Bells” bukanlah lagu
Natal?
Awalnya lagu ini ditulis oleh James Lord Pieroont sebagai lagu
“kebangsaan” pada pertandingan kebut-kebutan antara kereta luncur ( sleigh ride
) yang hanya diadakan pada musim dingin karena salju yang menjadi sarana umtuk
kereta luncur turun di musim salju.
Namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa lagu ini kemudian dikenal
sebagai lagu Natal. Pada 8 Desember 2008, saat upacara pohon terang di Brooklyn
, New York, Kantor Berita AP ( Associated Press ) meaporkan bahwa “Jinggle
Bells” dinyanyikan dalam 12 bahasa ( Inggris, Jerman, Portugis, Rumania,
Mandarin, Korea, Spanyol, Jepang dan Denmark ). Sampai sekarang lagu tersebut masih
dinyanyikan pada saat perayaan Natal.
Kita tidak tahu akan menjadi apa hari esok. Yang pasti, yang kita
lakukan saat ini akan mempunyai peranan dalam sejarah di bumi ini, besar atau
kecil. James Pierpont pasti tidak menduga lagunya akan melegenda seperti
sekarang.
Cerminan Anak
Cerminan
Anak
Anak yang
hidup dengan kecaman,
akan belajar
mencela.
Anak yang
hidup dalam suasana permusuhan,
akan belajar
bertengkar.
Anak yang
hidup dengan ejekan,
akan menjadi
pemalu.
Anak yang
hidup dengan suasana iri,
akan menjadi
pembenci.
Sebaliknya
Anak
yang hidup dengan dukungan,
akan
belajar untuk punya yakin diri.
Anak
yang hidup dengan pujian,
akan
belajar untuk menghargai.
Anak
yang hidup dalam suasana adil,
akan
belajar umtuk bersikap adil.
Anak
yang hidup dengan rasa aman,
akan
mempunyai iman.
Anak
yang hidup dengan restu,
akan
menyukai dirinya.
Anak
yang hidup dalam suasana diterima,
akan
belajar menemukan kasih dalam dunia.
Kurangi dan Perbanyak
Kurangi dan Perbanyak
Dalam Hidup
ini:
Kurangi
ucapan yang mendendam,
Perbanyak
ucaoan yang mengasihi.
Kurangi kata
– kata yang mengejek,
Perbanyak
kata – kata yang menghargai.
Kurangi kata
– kata yang melemahkan,
Perbanyak
kata – kata mendorong.
Kurangi kata
– kata yang menolak,
Perbanyak
kata – kata yang memperhatikan.
Kurangi kata
– kata kritik,
Perbanyak
kata – katayang membangun.
Kurangi kata
– kata yang sia – sia,
Perbanyak
kata – kata yang mendatangkan inspirasi.
Kurangi kata
– kata kasar,
Perbanyak
kata – kata yang lemah lembut.
8 Fakta Orangtua-Anak
8 fakta tingkah laku anak terhadap
orangtuanya, anak terkadang :
1. Berfikir orantuanya pilih kasih
terhadap saudaranya.
2. Merasa terkekang oleh orangtuanya.
3. Merasa lebih pintar dan membantah
nasihat orangtuanya.
4. Merasa dirinya tidak disayang.
5. Memperhitungkan segala sesuatu yang
telah ia lakukan untuk orangtuanga.
6. Membingungkan harta warisan.
7. Menganggap remeh sesuatu pekerjaan yang
telah diberikan.
8. Membentak
orangtuanya saat berbicara.
8 fakta yang tidak diketahui oleh anak
bahwa anak sering tidak mengerti :
1. Jika
dibalik sepengetahuannya orangtuanya selalu memuji anak di depan saudaranya.
2.
Bahwa
semua yang dilakukan orangtuanya hanya untuk kebaikan masa depan anak.
3. Bahwa
orangtuanya telah menjalani kehidupan yang lebih keras dibanding anak.
4. Disetiap
doa dan harapan orangtua, nama anak selalu diingat dan disebut.
5. Orangtua
jarnag sekali memberitahukan mengenai pengorbanannya selama melahirkan anak.
6. Orangtua
telah mempersiapkan warisan terbaik (tidak selalu harta) untuk anaknya, hanya
tinggal menunggu waktu yang tept umtuk menyerahkannya.
7. Orangtua
tidak rela melihat anaknya hidup susah ditempat orang lain.
8. Setiap
kali anak membentak, hati orangtua akan bergetar dan menyebabkan umurnya lebihh
pendek.
Bila
anda menyadari hal – hal diatas segera perbaiki diri anda. Sayangi orangtua
anda selagi mereka masih bersama dengan anda. Segala sesuatu dimulai dari diri
sendiri !
Hormatilah
ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu,
kepadamu.
(
Keluaran 20 : 12 )
Kesaksianku
Kesaksianku
Cerita ini
berawal saat sku masih duduk di bangku SMA. Ya, SMA-ku di SMA Negeri 2 Klaten.
Diawali saat aku masih duduk di kelas 1 SMA (kelas X). Saat itu aku ingin
sekali ikut OSN, jadi aku mengikutu tes seleksi OSN mata pelajaran Matematika di
SMA-ku. Tapi tes seleksi itu tak kunjung ada hasilnya.
Suatu hari, aku
sedang di tengah-tengah ujian mata pelajaran Matematika, mata pelajaran
kesukaanku. Ujian dilaksanakan selama kurang lebih 1 jam. Saat itu aku ingat
betul, jam baru menunjukkan pukul 12.00. Berarti baru setengah waktu ujian.
Tapi, aku sudah selesai mengerjakan ujianku. Dan aku yakin akan semua jawaban
yang sudah aku kerjakan. Saat itu guruku, Pak Agus lewat di dekatku dan
bertanya, “Sudah selesai?”. “Sudah, Pak.” jawabku. “Gak ingin dikoreksi lagi?”
tanyanya lagi. “Enggak, Pak.” jawabku. “Ya sudah.” katanya.
Hari berganti
hari, minggu berganti minggu, aku nyaris sudah melupakan kejadian hari itu.
Sampai suatu hari, aku ingat persis itu hari Kamis. Sebelum Pak Agus mengajar
di kelasku (kelas G), Beliau mengajar di kelas D. Di kelas itu, Beliau
memamerkan satu-satunya nilai 100 di ujian kemarin. Pada waktu istirahat,
teman-tamanku di kelas D menghampiriku dan mengatakan bahwa nilaiku 100. Tapi
aku tak langsung percaya pada perkataan mereka. Aku bilang, “Aku gak percaya
sebelum aku liat nilai itu sendiri!!”. Walaupun dalam hati aku sangat gembira.
Usai istirahat
adalah jam pelajaran Matematika. Pak Agus masuk ke kelasku, Beliau membagikan
hasil ujian kami. Beliau mengatakan bahwa hasil ujian kali ini sangat buruk.
Hampir seluruh anak mendapatkan nilai dibawah 60, atau banyak yang tidak lulus.
Lalu Beliau mengatakan, “Tapi, ada 1 nilai yang sempurna.”. Dan ternyata nilai
sempurna itu adalah milikku, tepat seperti apa yang dikatakan teman-temanku di
kelas D tadi. Saat itu pula Pak Agus mengajakku untuk ikut OSN mewakili SMA-ku.
Hatiku senang sekali, seolah-olah aku telah mendapat hadiah terindah yang
pernah ada (Berkat Tuhan yang tak terduga).
Seminggu sekali
aku ikut bimbingan OSN, dengan rencana terdekat untuk mengikuti Lomba Mata
Pelajaran Tingkat Kabupaten. Saat itu aku memeng baru kelas X, tapi entah
mengapa Pak Agus sangat yakin akan kemampuanku dan mempercayakan kesempatan itu
untukku. Pak Agus menjelaskan materi kelas XI dan materi kelas X yang belum
pernah kupelajari. Karena semua materi itu merupakan bahan untuk Lomba Mata
Pelajaran.
Hari berganti
hari, tibalah saat untuk Lomba Mata Pelajaran. Saat itu lomba diadakan di SMA
Padma Wijaya. Pesertanya sangat sedikit, dan hanya 1 ruangan untuk semua mata
pelajaran yang dilombakan. Saat mengikuti lomba itu aku sama sekali gak bisa
konsentrasi akan apa yang kukerjakan, cuma gara-gara aku pengen ke kamar mandi,
dan sialnya aku gak tahu tempatnya. Sehingga aku sudah pesimis akan hasilnya
(Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah). Tapi aku memetik pelajaran
penting. “Sebelum ujian, ke kamar madi dulu!”.
Rencana lomba
ke-2 adalah OSN Tingkat Kabupaten. Aku bersyukur karena OSN dilaksanakan di
SMA-ku, SMA N 2 Klaten. Jadi aku gak perlu bingung berangkat dan pulangnya. Aku
pun berangkat ke sekolah seperti biasa. Ternyata saat aku sampai di SMA-ku,
belum ada satupun peserta lomba yang datang. Bahkan ruangan untuk lomba baru
saja disapu oleh penjaga sekolah. Aku ingat persis, saat itu penjaga sekolah
sempat ngobrol denganku dan memberiku semangat. Semangat awalku di pagi itu
(Penyertaan Tuhan disampaikan lewat penjaga sekolahku). Menit demi menit
berlalu dan sekolahku mulai penuh dengan para peserta lomba OSN Kabupaten.
Ujian pun
dimulai, tak lupa sebelum ujian aku sudah ke kamar mandi. Di tengah-tengah
ujian, seorang pengawas mendekatiku. Dia bertanya, “Kelas X ya?”. “Iya, bu.”
jawabku. ”Yang lain sudah kelas XI lho. Gak takut.” katanya. “Enggak apa-apa,
bu. Saya cari pengalaman aja.” jawabku lagi (Optimis akan segala yang kulalui).
Hari itupun berlalu cepat, ujian telah selesai dan aku pulang ke rumah seperti
biasa.
Lomba Mata
Pelajaran dan OSN sudah kulalui, tapi tak kunjung ada hasilnya. Ya sudah lah,
aku pesimis bakal lolos. Suatu hari Pak Didit, salah satu guru Matemetika di sekolahku
yang sekligus adalah ketua MGMP Metematika di Klaten tiba-tiba menyalamiku.
Tentu saja aku bingung. “Selamat ya, kamu dapat peringkat 9.” katanya. “Apanya,
pak?” tanyaku bingung. “OSN kemarin, kamu peringkat 9.” katanya menjelaskan.
Sungguh suatu hal yang tak pernah kuduga sama sekali (Sekali lagi Berkat Tuhan
yang tak terduga). Aku, yang hanya seorang anak yang diremehkan oleh guru
pengawas, bisa mendapat peringkat 9. Mengalahkan banyak peserta yang pastinya lebih
tua dan lebih berpengalaman dariku, bahkan mengalahkan kakak kelasku yang juga
ikut lomba itu.
Tahun pun
berganti, aku sudah duduk di kelas XI. Aku pun tetap mengikuti bimbingan OSN.
Tahun ini Lomba Mata Pelajaran dilaksanakan di SMA Negeri 1 Klaten. Kali ini
suasananya berbeda, aku tidak lagi mewakili SMA-ku dengan kakak-kakak kelas,
tapi aku bersama teman-teman seangkatanku. Lomba itu kulalui dengan lancar
(Puji Tuhan). Saat pengumumannya keluar, ternyata aku mendapat juara 1 (Thanks
God, You are The Best). Bukan hanya itu, aku adalah satu-satunya wakil
Kabupaten yang berasal dari SMA-ku (Betapa Baiknya Tuhan).
Aku pun berangkat
ke Semarang untuk mengikuti Lomba Mata Pelajaran Tingkat Provinsi. Awalnya aku
takut, karena tak ada yang kukenal disana. Ternyata Tuhan berkata lain. Di
Kabupaten, aku bertemu dengan 2 orang temanku SMP, Wahyu dan Vena. Tuhan
memberiku teman di perjalanan dan di sana (di Semarang). Keberangkatanku adalah
gelombang pertama, dengan mata pelajaran yang berangkat adalah Juara 1 dan 2
Matematika (aku dan Wahyu), Juara 1 Ekonomi (Vena), dan Juara 1 dan 2 Komputer
(dari SMA N 1 Klaten). Di Semarang, kami berlima memperoleh banyak teman-teman
baru dari satu provinsi. Dari kami berlima, yang lolos masuk ke 10 besar hanya
2 orang, Vena dan 1 anak mata pelajaran Komputer.
Kisah Lomba Mata
Pelajaran berlalu, OSN sudah di depan mata. Aku pun kembali belajar untuk
menghadapi OSN. Entah mengapa OSN tahun ini kembali diadakan di SMA-ku. Tapi
kali ini aku tak mau mengulang kejadian tahun lalu. Aku pun berangakt tidak
terlalu pagi. Jadi sudah ada beberapa orang disana. Lomba kali ini pun kulalui
tanpa kesulitan yang berarti. Saat pengumumannya keluar, aku mendapat juara 2
(Puji Tuhan). Walaupun bukan juara 1, tapi aku tidak kecewa (Pasti ada rencana
yang lebih indah).
Aku pun kembali
berangkat ke Semarang. Kali ini dengan mata pelajaran yang berbeda, dan wakil
dari tiap mata pelajaran adalah 3 orang. Aku berangkat ke Semarang bersama
Wahyu lagi. Lomba kali ini kembali tak ada hasil yang jelas, mungin aku memeng
tidak lolos lagi (Tak apa, tetap semangat!!!).
Kelas XI pun
berlalu dengan cepat. Pada tahun ini aku kehilangan seorang pedoa syafaat
terbaik yang pernah ada, Nenekku... Setiap aku mau mengikuti lomba, mamaku
selalu menelepon Abo, begitulah panggilanku kepadanya. Saat Abo pergi, aku sangat sedih,
kehilangannya untuk selamanya. Tak ada lagi yang akan mendoakanku saat ujian,
atau saat aku akan berangkat lomba. Tapi aku tahu pasti, Abo disana pasti
selalu mendoakan aku... PASTI!!!
Saat aku kelas
XII, sudah tidak ada lagi lomba-lomba tingkat Kabupaten yang kuikuti. Sudah
saatnya regenerasi ke yang lebih muda. Tapi aku diarahkan mengikuti lomba-lomba
Matematika tingkat SMA di Universitas. Saat itu aku mau mengikuti Kompetisi
Matematika di UNS, tapi Kepala Sekolahku tak mengijinkan dengan alasan
“Buang-buang duit!”. Alasan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, aku tak bisa
melakukan apa-apa (Mungkin masih ada Rencana Tuhan lain untukku).
Beberapa bulan
kemudian, ada lomba Matematika di UGM. Kali ini kami nekat, bagaimanapun
caranya kami harus bisa ikut lomba itu. Akhirnya pihak sekolah mengijinkan,
dengan uang saku per anak Rp. 50.000,-. Itu uang sudah sekaligus uang
pendaftaran dan uang untuk perjalanan ke Jogja. Aku pun mengajak temanku yang
bernama Agus untuk ikut berangkat ke Jogja.
Hari lomba itu
sama dengan hari dimana wilayahku akan berangkat liburan (Semoga pilihanku
benar). Jadi aku memilih untuk berngkat lomba. Minggu itu aku berangkat ke
sekolah, aku dan Agus janjian bertemu di depan sekolah. Ternyata Agus datang
bersama kakaknya yang kuliah di Sanata Darma. Kami pun berabgkat bertiga. Di
Jogja, kami mencari lokasi lomba sambil berputar-putar mengelilingi UGM. Sampai
di tempat lomba, ternyata belum ada satupun perserta yang datang, bahkan panitianya
baru menata-nata tempat pendaftaran.
Disana, aku
kembali bertemu dengan Wahyu. Oh ya, aku lupa bercerita tentang Wahyu. Dia
adalah “Sainganku” di mata pelajaran Matematika. Walaupun bukan betul-betul
saingan, tapi kami selalu membandingkan garapan dan nilai ujian kami. Wahyu
sudah ikut lomba matematika sejak di SMP dan aku selalu terlihat lebih bodoh
darinya di depan guru-guru. Tapi saat Ujian Nasional SMP, nilaiku lebih bagus
dari nilainya. Nilaiku sempurna (100) dan nilainya salah 1 (90an). Mulai saat
itu, semuanya seperti terbalik. Aku menjadi lebih pintar dari pada dia. Saat
Lomba Mata Pelajaran, aku Juara 1, dia Juara 2. Saat OSN, aku Juara 2, dia
juara 3. Bahkan di lomba ini, nilaiku lebih bagus darinya. Walaupun kami berdua
sama-sama tak masuk final (Tuhan punya rencana lain, Positif Thinking).
Usai sudah
kisah-kisah lomba yang kualami, sekarang sudah saatnya konsentrasi ke Ujian
Nasional dan pendaftaran Universitas. Semua anak mulai bingung akan melanjutkan
kuliah dimana dan jurusan apa. Mulai banyak Universitas yang mengadakan promosi
ke kelas-kelas. Bahkan jalur prestasi pun sudah mulai membuka pendaftaran. Saat
itu UNS juga sudah membuka jalur PMDK. Aku mengajukan diri untuk mengikuti PMDK
ke Ruang BP. Tapi tanggapan dari guru-guru BP sangat negatif. Mereka menolakku
mentah-mentah, hanya karena aku penah ranking 10 di kelas (Mungkin memeng bukan
disini Rencana Tuhan itu).
Aku pun sudah
pesimis akan mengikuti PMDK, aku memfokuskan diri ke tes SNMPTN. Tapi mamaku
telah terprofokasi om ku, mama ku memaksaku untuk mendaftar ke Sanata Darma.
Dengan setengah hati aku mendaftarkan diri. Dan tentu saja aku langsung
diterima. Tapi aku memaksa papaku untuk tidak membayarnya, karena aku optimis
akan lolos SNMPTN.
Dalam rencanaku
mengikuti SNMPTN, aku pun mengikuti les. Hampir setiap hari aku pulang pergi ke
tempat les dengan mengendarai sepeda mini ku. Berangkat sore, dan selalu sampai
pertama, saat kelas masih kosong. Dan pulang malam, hampir magrib. Itu semua
untuk mewujudkan impianku masuk UNS. Aku selalu berangan-angan masuk UNS,
karena kudengar kuliah di UNS adalah kuliah yang paling murah bayarannya. Aku
pun belajar dengan giat untuk menghadapi ujian SNMPTN. Dalam hatiku aku selau
optimis bisa masuk UNS.
Saat pendaftaran
SNMPTN pun tiba. Aku bingung, pada pendaftaran jurusan IPA, minimal ada 2
pilihan. Aku berkonsultasi pada keluargaku. Kakakku menyarankan pilihan 1
Matematika UGM dan pilihan 2 Matematika UNS. Aku mengikuti sarannya. Aku
memilih lokasi ujian di Jogja, karena disana ada rumah om ku.
Hari demi hari
berlalu, hari ujian SNMPTN tinggal esok hari, jadi hari ini aku harus berangkat
ke Jogja. Beberapa jam sebelum berangkat ke Jogja, aku masih sempat bersepeda.
Disaat bersepeda itu, aku terjatuh dan lengan kiriku penuh dengan luka gores akibat
tergores tembok bata. Sepedaku pun sudah tidak bisa dinaikki lagi, sehingga aku
berjalan kaki pulang ke rumah.
Akupun berangkat
ke Jogja dengan tangan penuh luka. Aku berangkat bersama mama dan kakakku. Di
stasiun Lempuyangan, kami dijemput tanteku. Kami pun pergi ke UGM untuk melihat
lokasi ujianku esok hari. Hari itu aku sudah tidak bisa belajar lagi, karena
aku harus menahan rasa sakit di lenganku.
Keesokkan
harinya, pagi-pagi aku sudah diantar mamaku naik motor sepupuku. Kami sengaja
berangat sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan. Disana aku juga bertemu
dengan teman-teman yang senasib denganku. Ditengah ujian, kami yang hendak
mendaftar di UGM disuruh menulis jumlah sumbangan yang akan diberikan. Dan aku
mengisi nol (0) rupiah. Hari itu aku mengikuti ujian dengan lancar (Puji
Tuhan). Tapi disaat pulang dari tempat ujian, aku dan mamaku sempat tersesat
kerena mencari jalan yang tidak macet. Tapi, Puji Tuhan kami bisa sampai di
rumah om ku dengan selamat.
Hari kedua pun
hampir sama dengan hari pertama, aku berangkat pagi-pagi sekali. Tapi pulannya
aku tidak terburu-buru, karena takut kemacetan kemarin terjadi lagi. Kali ini
aku dijemput naik taksi oleh tanteku, mamaku, dan kakakku. Setelah itu, kami
bersama-sama jalan-jalan ke Amplaz (kalau gak salah).
Hari-hari tes
SNMPTN telah berlalu. Dengan perasaan tegang, aku menunggu hasil pengumumannya.
Mamaku sempat bertanya, “Kalo gak ketrima gimana?”. “Ya udah, gak usah kuliah,
bantu mama jahit aja.” jawabku santai.
H-1 pengumuman
SNMPTN, ada issue bahwa pengumuman sudah keluar jam 6 sore. Aku ingat persis
hari itu adalah hari Jumat. Aku harus berangkat persekutuan, dan persekutuan
dimulai jam 6 sore. Saat persekutuan baru dimulai, aku mulai membuka website
SNMPTN lewat HP ku. Tepat saat aku membaca bahwa aku diterima di UNS (Rencana
yang Indah pada waktunya) adalah saat akan dibacakan firman. Otomatis aku yang
sedang bergembira tak dapat menangkap satuun firman yang dikatakan pembawa
firman (Maafkan aku Tuhan).
Keesokkan harinya
aku membeli koran KR yang memuat pengumuman hasil SNMPTN. Disana ada pengumuman
untuk mengajukan Beasiswa Bidik Misi bagi yang kurang mampu. Aku pun dengan
gencar mencari informasi tentang beasiswa itu. Aku meminta orangtuaku untuk
membuat surat-surat yang diperlukan
Hari terakhir
pengumpulan berkas Bidik Misi adalah hari regestrasi ulang yang pertama. Aku
pun berangkat ke Solo bersama mamaku, sehari sebelum registrasi ulang
dilaksanakan. Kami pun menginap di rumah om ku, karena aku belum mendapat
kos-kosan.
Pagi itu aku
berangkat pagi-pagi sekali, dengan alasan yang sama. Menghindari kemacetan.
Saat aku tiba di MIPA, disana masih sepi sekali. Tapi ada seseorang duduk di
dekat pos satpam (yang sekarang telah kuketahui namanya adalah DPR). Kami berdua
berkenalan, ternyata dia sejurusan denganku. Namanya Ica. Kami pun berdua
terus, sampai pada antrian jurusan Matematika kami berkenalan dengan seorang
teman baru, namanya Antin. Akhirnya kami pergi kemana-mana bertiga.
Saat kami disuruh
mengambil jaket di KOPMA, kami kebingungan dan bertanya ke kakak-kakak di pos
HIMATIKA. Setelah kami mengetahu letaknya, kamipun langsung pergi tanpa
beramah-tamah dengan kakak-kakak disana. Pagi itu kami cukup beruntung, karena
tak perlu waktu lama untuk mengantri disana.
Setelah itu, kami
langsung mencari info tentang pengumpulan Form Bidik Misi. Ternyata Ica dan
Antin juga ingin ikut mendaftar, tapi sayang formulir Ica kurng satu dan Antin
tidak tahu tentang syarat-syaratnya, Jadilah aku mendaftar beasiswa itu sendiri.
Hari demi hari
berlalu, aku tak pernah memikirkan tentang semua yang pernah kualami ini.
Sampai suatu saat, aku menyadari bahwa perjalanan hidupku adalah suatu berkat
yang luar biasa. Saat aku mengalaminya, mungkin hal-hal ini terasa biasa saja.
Tapi saat menceritakannya, banya sekali Berkat Tuhan yang tanpa kusadar telah
aku dapatkan selama ini.
Tuhan telah
memberiku kesempatan untuk merasakan nuansa kompetisi. Tuhan memberiku piagam
yang mungkin saat itu belum kuketahui manfaatnya. Aku tak masuk UNS lewat
Kompetisi Matematika atau PMDK. Tapi Tuhan buat aku masuk UNS lewat tes SNMPTN.
Tuhan buat aku melihat pengumuman Beasiswa Bidik Misi dan memanfaatkan piagam
lombaku untuk mendaftar. Tuhan ijinkan aku mendapat Beasiswa Bidik Misi untuk
meringankan biaya yang dikeluarkan orangtuaku. Tuhan berikan nilai-nilai yang
bagus, bahkan tak pernah kuduga hingga saat ini.
Semoga kisahku
ini bisa jadi berkat buat teman-teman semua. Berkat yang kuterima bukan hanya
untukku sendiri. Dan semoga kita dapat menjadi berkat di lingkungan sekitar
kita.
Tuhan Memberkati
Saat gagal bukanlah saat dimana Tuhan
tidak memberkatimu, tapi saat dimana Tuhan menyuruhmu menunggu untuk BERKAT
yang lebih indah bahkan tak terduga.
Subscribe to:
Posts (Atom)