Friday, 27 January 2012

Kesaksianku

Kesaksianku

Cerita ini berawal saat sku masih duduk di bangku SMA. Ya, SMA-ku di SMA Negeri 2 Klaten. Diawali saat aku masih duduk di kelas 1 SMA (kelas X). Saat itu aku ingin sekali ikut OSN, jadi aku mengikutu tes seleksi OSN mata pelajaran Matematika di SMA-ku. Tapi tes seleksi itu tak kunjung ada hasilnya.
Suatu hari, aku sedang di tengah-tengah ujian mata pelajaran Matematika, mata pelajaran kesukaanku. Ujian dilaksanakan selama kurang lebih 1 jam. Saat itu aku ingat betul, jam baru menunjukkan pukul 12.00. Berarti baru setengah waktu ujian. Tapi, aku sudah selesai mengerjakan ujianku. Dan aku yakin akan semua jawaban yang sudah aku kerjakan. Saat itu guruku, Pak Agus lewat di dekatku dan bertanya, “Sudah selesai?”. “Sudah, Pak.” jawabku. “Gak ingin dikoreksi lagi?” tanyanya lagi. “Enggak, Pak.” jawabku. “Ya sudah.” katanya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, aku nyaris sudah melupakan kejadian hari itu. Sampai suatu hari, aku ingat persis itu hari Kamis. Sebelum Pak Agus mengajar di kelasku (kelas G), Beliau mengajar di kelas D. Di kelas itu, Beliau memamerkan satu-satunya nilai 100 di ujian kemarin. Pada waktu istirahat, teman-tamanku di kelas D menghampiriku dan mengatakan bahwa nilaiku 100. Tapi aku tak langsung percaya pada perkataan mereka. Aku bilang, “Aku gak percaya sebelum aku liat nilai itu sendiri!!”. Walaupun dalam hati aku sangat gembira.
Usai istirahat adalah jam pelajaran Matematika. Pak Agus masuk ke kelasku, Beliau membagikan hasil ujian kami. Beliau mengatakan bahwa hasil ujian kali ini sangat buruk. Hampir seluruh anak mendapatkan nilai dibawah 60, atau banyak yang tidak lulus. Lalu Beliau mengatakan, “Tapi, ada 1 nilai yang sempurna.”. Dan ternyata nilai sempurna itu adalah milikku, tepat seperti apa yang dikatakan teman-temanku di kelas D tadi. Saat itu pula Pak Agus mengajakku untuk ikut OSN mewakili SMA-ku. Hatiku senang sekali, seolah-olah aku telah mendapat hadiah terindah yang pernah ada (Berkat Tuhan yang tak terduga).
Seminggu sekali aku ikut bimbingan OSN, dengan rencana terdekat untuk mengikuti Lomba Mata Pelajaran Tingkat Kabupaten. Saat itu aku memeng baru kelas X, tapi entah mengapa Pak Agus sangat yakin akan kemampuanku dan mempercayakan kesempatan itu untukku. Pak Agus menjelaskan materi kelas XI dan materi kelas X yang belum pernah kupelajari. Karena semua materi itu merupakan bahan untuk Lomba Mata Pelajaran.
Hari berganti hari, tibalah saat untuk Lomba Mata Pelajaran. Saat itu lomba diadakan di SMA Padma Wijaya. Pesertanya sangat sedikit, dan hanya 1 ruangan untuk semua mata pelajaran yang dilombakan. Saat mengikuti lomba itu aku sama sekali gak bisa konsentrasi akan apa yang kukerjakan, cuma gara-gara aku pengen ke kamar mandi, dan sialnya aku gak tahu tempatnya. Sehingga aku sudah pesimis akan hasilnya (Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih indah). Tapi aku memetik pelajaran penting. “Sebelum ujian, ke kamar madi dulu!”.
Rencana lomba ke-2 adalah OSN Tingkat Kabupaten. Aku bersyukur karena OSN dilaksanakan di SMA-ku, SMA N 2 Klaten. Jadi aku gak perlu bingung berangkat dan pulangnya. Aku pun berangkat ke sekolah seperti biasa. Ternyata saat aku sampai di SMA-ku, belum ada satupun peserta lomba yang datang. Bahkan ruangan untuk lomba baru saja disapu oleh penjaga sekolah. Aku ingat persis, saat itu penjaga sekolah sempat ngobrol denganku dan memberiku semangat. Semangat awalku di pagi itu (Penyertaan Tuhan disampaikan lewat penjaga sekolahku). Menit demi menit berlalu dan sekolahku mulai penuh dengan para peserta lomba OSN Kabupaten.
Ujian pun dimulai, tak lupa sebelum ujian aku sudah ke kamar mandi. Di tengah-tengah ujian, seorang pengawas mendekatiku. Dia bertanya, “Kelas X ya?”. “Iya, bu.” jawabku. ”Yang lain sudah kelas XI lho. Gak takut.” katanya. “Enggak apa-apa, bu. Saya cari pengalaman aja.” jawabku lagi (Optimis akan segala yang kulalui). Hari itupun berlalu cepat, ujian telah selesai dan aku pulang ke rumah seperti biasa.
Lomba Mata Pelajaran dan OSN sudah kulalui, tapi tak kunjung ada hasilnya. Ya sudah lah, aku pesimis bakal lolos. Suatu hari Pak Didit, salah satu guru Matemetika di sekolahku yang sekligus adalah ketua MGMP Metematika di Klaten tiba-tiba menyalamiku. Tentu saja aku bingung. “Selamat ya, kamu dapat peringkat 9.” katanya. “Apanya, pak?” tanyaku bingung. “OSN kemarin, kamu peringkat 9.” katanya menjelaskan. Sungguh suatu hal yang tak pernah kuduga sama sekali (Sekali lagi Berkat Tuhan yang tak terduga). Aku, yang hanya seorang anak yang diremehkan oleh guru pengawas, bisa mendapat peringkat 9. Mengalahkan banyak peserta yang pastinya lebih tua dan lebih berpengalaman dariku, bahkan mengalahkan kakak kelasku yang juga ikut lomba itu.
Tahun pun berganti, aku sudah duduk di kelas XI. Aku pun tetap mengikuti bimbingan OSN. Tahun ini Lomba Mata Pelajaran dilaksanakan di SMA Negeri 1 Klaten. Kali ini suasananya berbeda, aku tidak lagi mewakili SMA-ku dengan kakak-kakak kelas, tapi aku bersama teman-teman seangkatanku. Lomba itu kulalui dengan lancar (Puji Tuhan). Saat pengumumannya keluar, ternyata aku mendapat juara 1 (Thanks God, You are The Best). Bukan hanya itu, aku adalah satu-satunya wakil Kabupaten yang berasal dari SMA-ku (Betapa Baiknya Tuhan).
Aku pun berangkat ke Semarang untuk mengikuti Lomba Mata Pelajaran Tingkat Provinsi. Awalnya aku takut, karena tak ada yang kukenal disana. Ternyata Tuhan berkata lain. Di Kabupaten, aku bertemu dengan 2 orang temanku SMP, Wahyu dan Vena. Tuhan memberiku teman di perjalanan dan di sana (di Semarang). Keberangkatanku adalah gelombang pertama, dengan mata pelajaran yang berangkat adalah Juara 1 dan 2 Matematika (aku dan Wahyu), Juara 1 Ekonomi (Vena), dan Juara 1 dan 2 Komputer (dari SMA N 1 Klaten). Di Semarang, kami berlima memperoleh banyak teman-teman baru dari satu provinsi. Dari kami berlima, yang lolos masuk ke 10 besar hanya 2 orang, Vena dan 1 anak mata pelajaran Komputer.
Kisah Lomba Mata Pelajaran berlalu, OSN sudah di depan mata. Aku pun kembali belajar untuk menghadapi OSN. Entah mengapa OSN tahun ini kembali diadakan di SMA-ku. Tapi kali ini aku tak mau mengulang kejadian tahun lalu. Aku pun berangakt tidak terlalu pagi. Jadi sudah ada beberapa orang disana. Lomba kali ini pun kulalui tanpa kesulitan yang berarti. Saat pengumumannya keluar, aku mendapat juara 2 (Puji Tuhan). Walaupun bukan juara 1, tapi aku tidak kecewa (Pasti ada rencana yang lebih indah).
Aku pun kembali berangkat ke Semarang. Kali ini dengan mata pelajaran yang berbeda, dan wakil dari tiap mata pelajaran adalah 3 orang. Aku berangkat ke Semarang bersama Wahyu lagi. Lomba kali ini kembali tak ada hasil yang jelas, mungin aku memeng tidak lolos lagi (Tak apa, tetap semangat!!!).
Kelas XI pun berlalu dengan cepat. Pada tahun ini aku kehilangan seorang pedoa syafaat terbaik yang pernah ada, Nenekku... Setiap aku mau mengikuti lomba, mamaku selalu menelepon Abo, begitulah panggilanku kepadanya.  Saat Abo pergi, aku sangat sedih, kehilangannya untuk selamanya. Tak ada lagi yang akan mendoakanku saat ujian, atau saat aku akan berangkat lomba. Tapi aku tahu pasti, Abo disana pasti selalu mendoakan aku... PASTI!!!
Saat aku kelas XII, sudah tidak ada lagi lomba-lomba tingkat Kabupaten yang kuikuti. Sudah saatnya regenerasi ke yang lebih muda. Tapi aku diarahkan mengikuti lomba-lomba Matematika tingkat SMA di Universitas. Saat itu aku mau mengikuti Kompetisi Matematika di UNS, tapi Kepala Sekolahku tak mengijinkan dengan alasan “Buang-buang duit!”. Alasan yang aneh memang, tapi apa boleh buat, aku tak bisa melakukan apa-apa (Mungkin masih ada Rencana Tuhan lain untukku).
Beberapa bulan kemudian, ada lomba Matematika di UGM. Kali ini kami nekat, bagaimanapun caranya kami harus bisa ikut lomba itu. Akhirnya pihak sekolah mengijinkan, dengan uang saku per anak Rp. 50.000,-. Itu uang sudah sekaligus uang pendaftaran dan uang untuk perjalanan ke Jogja. Aku pun mengajak temanku yang bernama Agus untuk ikut berangkat ke Jogja.
Hari lomba itu sama dengan hari dimana wilayahku akan berangkat liburan (Semoga pilihanku benar). Jadi aku memilih untuk berngkat lomba. Minggu itu aku berangkat ke sekolah, aku dan Agus janjian bertemu di depan sekolah. Ternyata Agus datang bersama kakaknya yang kuliah di Sanata Darma. Kami pun berabgkat bertiga. Di Jogja, kami mencari lokasi lomba sambil berputar-putar mengelilingi UGM. Sampai di tempat lomba, ternyata belum ada satupun perserta yang datang, bahkan panitianya baru menata-nata tempat pendaftaran.
Disana, aku kembali bertemu dengan Wahyu. Oh ya, aku lupa bercerita tentang Wahyu. Dia adalah “Sainganku” di mata pelajaran Matematika. Walaupun bukan betul-betul saingan, tapi kami selalu membandingkan garapan dan nilai ujian kami. Wahyu sudah ikut lomba matematika sejak di SMP dan aku selalu terlihat lebih bodoh darinya di depan guru-guru. Tapi saat Ujian Nasional SMP, nilaiku lebih bagus dari nilainya. Nilaiku sempurna (100) dan nilainya salah 1 (90an). Mulai saat itu, semuanya seperti terbalik. Aku menjadi lebih pintar dari pada dia. Saat Lomba Mata Pelajaran, aku Juara 1, dia Juara 2. Saat OSN, aku Juara 2, dia juara 3. Bahkan di lomba ini, nilaiku lebih bagus darinya. Walaupun kami berdua sama-sama tak masuk final (Tuhan punya rencana lain, Positif Thinking).
Usai sudah kisah-kisah lomba yang kualami, sekarang sudah saatnya konsentrasi ke Ujian Nasional dan pendaftaran Universitas. Semua anak mulai bingung akan melanjutkan kuliah dimana dan jurusan apa. Mulai banyak Universitas yang mengadakan promosi ke kelas-kelas. Bahkan jalur prestasi pun sudah mulai membuka pendaftaran. Saat itu UNS juga sudah membuka jalur PMDK. Aku mengajukan diri untuk mengikuti PMDK ke Ruang BP. Tapi tanggapan dari guru-guru BP sangat negatif. Mereka menolakku mentah-mentah, hanya karena aku penah ranking 10 di kelas (Mungkin memeng bukan disini Rencana Tuhan itu).
Aku pun sudah pesimis akan mengikuti PMDK, aku memfokuskan diri ke tes SNMPTN. Tapi mamaku telah terprofokasi om ku, mama ku memaksaku untuk mendaftar ke Sanata Darma. Dengan setengah hati aku mendaftarkan diri. Dan tentu saja aku langsung diterima. Tapi aku memaksa papaku untuk tidak membayarnya, karena aku optimis akan lolos SNMPTN.
Dalam rencanaku mengikuti SNMPTN, aku pun mengikuti les. Hampir setiap hari aku pulang pergi ke tempat les dengan mengendarai sepeda mini ku. Berangkat sore, dan selalu sampai pertama, saat kelas masih kosong. Dan pulang malam, hampir magrib. Itu semua untuk mewujudkan impianku masuk UNS. Aku selalu berangan-angan masuk UNS, karena kudengar kuliah di UNS adalah kuliah yang paling murah bayarannya. Aku pun belajar dengan giat untuk menghadapi ujian SNMPTN. Dalam hatiku aku selau optimis bisa masuk UNS.
Saat pendaftaran SNMPTN pun tiba. Aku bingung, pada pendaftaran jurusan IPA, minimal ada 2 pilihan. Aku berkonsultasi pada keluargaku. Kakakku menyarankan pilihan 1 Matematika UGM dan pilihan 2 Matematika UNS. Aku mengikuti sarannya. Aku memilih lokasi ujian di Jogja, karena disana ada rumah om ku.
Hari demi hari berlalu, hari ujian SNMPTN tinggal esok hari, jadi hari ini aku harus berangkat ke Jogja. Beberapa jam sebelum berangkat ke Jogja, aku masih sempat bersepeda. Disaat bersepeda itu, aku terjatuh dan lengan kiriku penuh dengan luka gores akibat tergores tembok bata. Sepedaku pun sudah tidak bisa dinaikki lagi, sehingga aku berjalan kaki pulang ke rumah.
Akupun berangkat ke Jogja dengan tangan penuh luka. Aku berangkat bersama mama dan kakakku. Di stasiun Lempuyangan, kami dijemput tanteku. Kami pun pergi ke UGM untuk melihat lokasi ujianku esok hari. Hari itu aku sudah tidak bisa belajar lagi, karena aku harus menahan rasa sakit di lenganku.
Keesokkan harinya, pagi-pagi aku sudah diantar mamaku naik motor sepupuku. Kami sengaja berangat sepagi mungkin untuk menghindari kemacetan. Disana aku juga bertemu dengan teman-teman yang senasib denganku. Ditengah ujian, kami yang hendak mendaftar di UGM disuruh menulis jumlah sumbangan yang akan diberikan. Dan aku mengisi nol (0) rupiah. Hari itu aku mengikuti ujian dengan lancar (Puji Tuhan). Tapi disaat pulang dari tempat ujian, aku dan mamaku sempat tersesat kerena mencari jalan yang tidak macet. Tapi, Puji Tuhan kami bisa sampai di rumah om ku dengan selamat.
Hari kedua pun hampir sama dengan hari pertama, aku berangkat pagi-pagi sekali. Tapi pulannya aku tidak terburu-buru, karena takut kemacetan kemarin terjadi lagi. Kali ini aku dijemput naik taksi oleh tanteku, mamaku, dan kakakku. Setelah itu, kami bersama-sama jalan-jalan ke Amplaz (kalau gak salah).
Hari-hari tes SNMPTN telah berlalu. Dengan perasaan tegang, aku menunggu hasil pengumumannya. Mamaku sempat bertanya, “Kalo gak ketrima gimana?”. “Ya udah, gak usah kuliah, bantu mama jahit aja.” jawabku santai.
H-1 pengumuman SNMPTN, ada issue bahwa pengumuman sudah keluar jam 6 sore. Aku ingat persis hari itu adalah hari Jumat. Aku harus berangkat persekutuan, dan persekutuan dimulai jam 6 sore. Saat persekutuan baru dimulai, aku mulai membuka website SNMPTN lewat HP ku. Tepat saat aku membaca bahwa aku diterima di UNS (Rencana yang Indah pada waktunya) adalah saat akan dibacakan firman. Otomatis aku yang sedang bergembira tak dapat menangkap satuun firman yang dikatakan pembawa firman (Maafkan aku Tuhan).
Keesokkan harinya aku membeli koran KR yang memuat pengumuman hasil SNMPTN. Disana ada pengumuman untuk mengajukan Beasiswa Bidik Misi bagi yang kurang mampu. Aku pun dengan gencar mencari informasi tentang beasiswa itu. Aku meminta orangtuaku untuk membuat surat-surat yang diperlukan
Hari terakhir pengumpulan berkas Bidik Misi adalah hari regestrasi ulang yang pertama. Aku pun berangkat ke Solo bersama mamaku, sehari sebelum registrasi ulang dilaksanakan. Kami pun menginap di rumah om ku, karena aku belum mendapat kos-kosan.
Pagi itu aku berangkat pagi-pagi sekali, dengan alasan yang sama. Menghindari kemacetan. Saat aku tiba di MIPA, disana masih sepi sekali. Tapi ada seseorang duduk di dekat pos satpam (yang sekarang telah kuketahui namanya adalah DPR). Kami berdua berkenalan, ternyata dia sejurusan denganku. Namanya Ica. Kami pun berdua terus, sampai pada antrian jurusan Matematika kami berkenalan dengan seorang teman baru, namanya Antin. Akhirnya kami pergi kemana-mana bertiga.
Saat kami disuruh mengambil jaket di KOPMA, kami kebingungan dan bertanya ke kakak-kakak di pos HIMATIKA. Setelah kami mengetahu letaknya, kamipun langsung pergi tanpa beramah-tamah dengan kakak-kakak disana. Pagi itu kami cukup beruntung, karena tak perlu waktu lama untuk mengantri disana.
Setelah itu, kami langsung mencari info tentang pengumpulan Form Bidik Misi. Ternyata Ica dan Antin juga ingin ikut mendaftar, tapi sayang formulir Ica kurng satu dan Antin tidak tahu tentang syarat-syaratnya, Jadilah aku mendaftar beasiswa itu sendiri.
Hari demi hari berlalu, aku tak pernah memikirkan tentang semua yang pernah kualami ini. Sampai suatu saat, aku menyadari bahwa perjalanan hidupku adalah suatu berkat yang luar biasa. Saat aku mengalaminya, mungkin hal-hal ini terasa biasa saja. Tapi saat menceritakannya, banya sekali Berkat Tuhan yang tanpa kusadar telah aku dapatkan selama ini.
Tuhan telah memberiku kesempatan untuk merasakan nuansa kompetisi. Tuhan memberiku piagam yang mungkin saat itu belum kuketahui manfaatnya. Aku tak masuk UNS lewat Kompetisi Matematika atau PMDK. Tapi Tuhan buat aku masuk UNS lewat tes SNMPTN. Tuhan buat aku melihat pengumuman Beasiswa Bidik Misi dan memanfaatkan piagam lombaku untuk mendaftar. Tuhan ijinkan aku mendapat Beasiswa Bidik Misi untuk meringankan biaya yang dikeluarkan orangtuaku. Tuhan berikan nilai-nilai yang bagus, bahkan tak pernah kuduga hingga saat ini.
Semoga kisahku ini bisa jadi berkat buat teman-teman semua. Berkat yang kuterima bukan hanya untukku sendiri. Dan semoga kita dapat menjadi berkat di lingkungan sekitar kita.

Tuhan Memberkati

Saat gagal bukanlah saat dimana Tuhan tidak memberkatimu, tapi saat dimana Tuhan menyuruhmu menunggu untuk BERKAT yang lebih indah bahkan tak terduga.

No comments:

Post a Comment